-->
  • Jelajahi

    Copyright © BIDIK INDONESIA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Ekspor Aceh Tembus Rp.875 Miliar, Mahal Biaya Angkut

    Rabu, 05 Januari 2022, 05.19 WIB Last Updated 2022-01-11T03:26:32Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Wakil Ketua Legislasi DPRA, Bardan Sahidi. 


    Bidik Indonesia.com. Banda Aceh - Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Rabu 5/01/2022, nilai ekspor Provinsi Aceh mengalami peningkatan menjadi total US$61,20 juta (Rp875 miliar) selama periode November 2021.


    Jumlah itu naik hingga 161,01 persen, jika dibandingkan periode yang sama pada 2020 sebesar US$23,45 juta (Rp335 miliar) pada November 2020 (yoy).


    Nilai ekspor komoditi asal Provinsi Aceh terbagi dua pelabuhan muat. Melalui pelabuhan di luar Aceh atau Sumatera Utara 17,86 persen atau US$10,93 juta (Rp156 miliar), dan melalui pelabuhan di Aceh 82,14 persen atau US$50,27 juta (Rp719 miliar).


    Menanggapi nilai ekspor komoditi di Aceh, Wakil Ketua Badan Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Bardan Sahidi, mengatakan Pemerintah Aceh harus peka terhadap tingginya angka ekspor di Aceh, sehingga dapat lebih memprioritaskan izin yang selama ini terkendala di Aceh.


    "Pemerintah harus peduli terhadap izin. Kendala kita diizin sekarang, izin dari pemerintah, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri dan koordinator Pelindo. Kalau itu udah dilakukan maka bisa transaksi di pinggir laut," kata Bardan, Sabtu 8 Januari 2022.


    Bardan juga mendorong pemerintah pusat melalui Pemerintah Aceh agar memberikan kewenangan untuk Aceh, supaya dapat melakukan aktivitas bongkar muat komoditas hasil Aceh menuju pasar global.


    "Perairan Aceh punya pelabuhan strategis untuk ekspor komoditi. Ada pelabuhan Kuala Langsa, Kuala Idi, Krueng Geukueh, Malahayati Lintas Barat dan Pelabuhan Singkil. Komoditas tertentu itu bisa di Kuala Langsa dan pelabuhan bebas Sabang," ungkap Bardan yang juga Anggota Komisi I DPRA.


    Sementara itu, Bardan juga menyebutkan saat ini terutama eksportir kopi mengalami sejumlah kendala mulai dari biaya angkut yang mahal hingga perjalanan jauh ke Belawan, Sumatera Utara, dengan muatan yang padat dan 18 jam perjalanan darat.


    "Lebih mahal terhadap biaya angkut. Kata mereka perkilo kopi Rp10 ribu untuk lewat ke Belawan. Biaya kalau ekspor satu lot itu 16 ton, nah itu biayanya. Maka kalau kita bisa tekan Rp5 ribu aja lewat pelabuhan kita yang ada di Krueng Geukueh. Maka itu luar biasa," ucap politisi partai PKS itu.


    Bardan mengatakan komoditas kopi Aceh merupakan komoditas ekspor yang sangat luar biasa dan potensial. Namun para eksportir masih terkendala dengan susahnya menempuh perjalanan darat dari Bener Meriah Meriah, Aceh Tengah hingga ke Belawan.


    "Tapi kalau keluar melalui Krueng Geukueh per seminggu sekali, kita bisa lakukan bongkar muat. Pemerintah harus peduli terhadap izin ini," tegas Bardan.


    Bardan berharap Pemerintah Aceh lebih serius dan berani untuk meminta izin dari pemerintah pusat agar wewenang untuk dapat melakukan aktivitas bongkar muat komoditas hasil Aceh menuju pasar global.


    "Yang kita butuhkan cuma satu yaitu izin dari pemerintah. Semua proses yang kita lakukan terkendala diizin. Izin itu yang kita rindukan. Harapannya ada keberanian untuk menerobos," tutup Bardan. kba.one.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini