-->
  • Jelajahi

    Copyright © BIDIK INDONESIA
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Jembatan Penghubung Roboh, Pelajar di Desa Pangkalan Gondai Pelalawan Riau Terpaksa Libur

    Kamis, 10 Februari 2022, 03.46 WIB Last Updated 2022-02-10T11:46:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini

    Pelalawan Bidikindonesia.com-  Anak sekolah di Tanjung Baru Desa Pangkalan Gondai, Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau terpaksa libur karena terputusnya akses transportasi.



    Jembatan penghubung di Desa Pangkalan Gondai pada Minggu (6/2/2022) malam roboh.

    Sebanyak 88 Kepala Keluarga (KK) di RW 08 dan RW 11 Tanjung Baru Desa Pangkalan Gondai terisolir akibat jembatan yang hanyut terbawa arus Sungai Mamahan.

    Pasalnya, jembatan kayu itulah yang menjadi akses satu-satunya yang dilintasi masyarakat beraktivitas ke desa maupun ke dusun lainnya

    Anak sekolah di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan terpaksa libur lantaran jembatan penghubung desa roboh dan mereka tak bisa bersekolah, Rabu (9/2/2022). 

    Anak sekolah di Tanjung Baru Desa Pangkalan Gondai, Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau terpaksa libur karena terputusnya akses transportasi.

    Jembatan penghubung di Desa Pangkalan Gondai pada Minggu (6/2/2022) malam roboh.

    Sebanyak 88 Kepala Keluarga (KK) di RW 08 dan RW 11 Tanjung Baru Desa Pangkalan Gondai terisolir akibat jembatan yang hanyut terbawa arus Sungai Mamahan.


    Pasalnya, jembatan kayu itulah yang menjadi akses satu-satunya yang dilintasi masyarakat beraktivitas ke desa maupun ke dusun lainnya.


    Setelah jembatan itu putus, tidak ada lagi jalur yang bisa digunakan masyarakat menyeberangi Sungai Mamahan untuk bekerja maupun keperluan lainnya.


    "Sampai sekarang anak sekolah dari RW 08 dan RW 11 itu terpaksa diliburkan, karena tidak ada akses untuk menyeberang lagi. Jadi mereka tak bisa sekolah," kata Kepala Desa Pangkalan Gondai, Aman L, kepada Tribunpekanbaru.com, Rabu (9/2/2022).


    Aman menjelaskan, ada belasan siswa-siswi tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada di Tanjung Baru itu.


    Selama ini para peserta didik menggunakan jembatan tersebut untuk berangkat ke sekolah sebelum ambruk diterjang banjir.Namun setelah jembatan hanyut, mereka tak bisa lagi ke sekolah dan terpaksa diliburkan sementara waktu lantaran terisolasi.Disamping itu, hasil panen masyarakat juga sangat sulit diangkut sejak jembatan kayu tidak ada lagi.

    Sawit dan tanaman lain yang dipanen terpaksa musti dibawa memutar jauh dari daerah lain agar bisa dijual.


    Jarak tempuh yang jauh tetap dijalani demi menjual hasil panen yang dikuatirkan akan busuk jika tidak diangkut secepatnya.


    "Untuk stok makanan maupun sembako bagi 88 KK yang terisolir masih aman. Tapi harus butuh cepat penanganannya, agar masyarakat tidak terkurung di sana," beber Aman.Ia menjelaskan, tim dari Dinas PUPR telah turun ke lokasi untuk meninjau jembatan yang tumbang dan hanyut itu.

    Pihaknya meminta kepada Pemda maupun perusahaan swasta yang ada disekitarnya agar membangun jembatan darurat dari kayu seperti jembatan lama. Sehingga akses yang terputus bisa tersambung lagi.


    "Untuk jembatan permanen memang tahun ini dibangun dari APBD yang panjangnya 12 meter. Kalau dari dana desa kita tak sanggup," pungkasnya.

    Penulis: flafian.

    Sumber:tribun Pelalawan.


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    Nasional

    +